PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP DEBIT PUNCAK SUB-DAS OPAK HULU TAHUN 2009 DAN 2014 MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT 5 DAN LANDSAT 8

Devian Arya Febryanto, Nur Mohammad Farda

Sari


Interaksi sub-DAS Opak Hulu dengan daerah sekitar menyebabkan perkembangan daerah. Perkembangan daerah menimbulkan perubahan penggunaan lahan. Aktivitas gunung merapi tahun 2010 menyebabkan perubahan penggunaan lahan di hulunya. Keduanya secara tidak langsung mempengaruhi debit.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap debit puncak sub-DAS Opak Hulu tahun 2009 dan 2014. Perubahan penggunaan lahan diperoleh dari klasifikasi multispektral menggunakan citra Landsat 5 dan Landsat 8. Debit dihitung menggunakan metode Haspers. Analisis deskriptif dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan penggunaan lahan terhadap debit sub-DAS Opak Hulu.Hasil penelitian menunjukkan lahan seluas 12,02 km2 tahun 2009 berubah menjadi lahan terbangun pada tahun 2014. Lahan terbuka di hulu sub-DAS pada tahun 2014 lebih luas 1,8 km2daripada tahun 2009. Perubahan penggunaan lahan menyebabkan perubahankoefisien limpasan sebesar 0,01. Koefisien limpasan berpengaruh terhadap debit, namun tidak signifikan.

Kata Kunci


sub-DAS Opak Hulu, Landsat 5, Landsat 8,perubahan penggunaan lahan, debit, koefisien limpasan permukaan, Opak sub-watershed,Landsat 5,Landsat 7, land use change, peak flood discharge, runoff coefficient

Referensi


Asdak C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Chander, Gyanesh, dkk. 2007. Revised Landsat-5 Thematic Mapper Radiometric Calibration. IEEE Geoscience and Remote Sensing Letters.

Danoedoro, Projo. 2012. Pengantar Penginderaan Jauh Digital. Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Darmanto, Darmokusumo dan Sudarmadji. 1997. Dampak Hidrologis Perubahan Penggunaan Lahan di Kawasan Utara Yogyakarta. Manusia dan Lingkungan. IV. hal 25-40.

Gunawan, Totok. 1991. Penerapan Teknik Penginderaan Jauh Untuk Menduga Debit Puncak Mnggunakan Karakteristik Fisik DAS (Studi Kasus di DAS Bengawan Solo).Desertasi. Fakultas Pasca Sarjana IPB. Bogor.

Hadisusanto, Nugroho. 2010. Aplikasi Hidrologi. Yogyakarta: Jogja Mediautama.

Meijerink, A.M.J . 1970. Photo Interpretation in Hydrology. A Geomorphological Approach. ITC. Delf.

Murwibowo, P, dan Totok Gunawan. 2013. Aplikasi Penginderaan Jauh Dan Sistem Informasi Geografis untuk Mengkaji Perubahan Koefisien Limpasan Permukaan Akibat Letusan Gunung Merapi Tahun 2010 Di Sub Das Gendol Yogyakarta. Jurnal Bumi Indonesia. 2(1). (diakses 28 Oktober 2015).

Raharjo, Puguh Dwi. 2009. Perubahan Penggunaan lahan DAS Kreo Terhadap Debit Puncak dengan Aplikasi Penginderaan Jauh. Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan. 19(2). hal 69-84.

Rahman, Abdur. 2013. Model Sistem Informasi Geografis untuk Estimasi Koefisien Aliran dan Hubungannya dengan Tutupan Lahan Di DAS Riam Kanan Provinsi Kalimantan Selatan. Jurnal Bumi Lestari. 13(1). hal 1-8.

Sanimin. 2001. Pengaruh Perubahan Penggunaan Lahan Hutan Di Sub Daerah Aliran Sungai Setail Hulu Terhadap Persediaan Air Irigasi Pengairan Genteng Banyuwangi Jawa Timur. Tesis. Program Studi Geografi dan Program Pascasarjana UGM. Yogyakarta.

Seyhan. 1990. Prinsip Dasar dan Aplikasi Hidrologi. Yogyakarta: Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Seyhan, E, dan Subagyo. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Soewarno. 1995. Model Perkiraan Debit Banjir pada Sungai di Jawa. Majalah Geografi Indonesia. 8-9(14-15). hal 29-45.

Sudaryatno. 2000. Penerapan Teknik Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Estimasi Debit Puncak di Daerah Aliran Sungai Garang Semarang, Jawa Tengah.Tesis. Pasca Sarjana UGM. Yogyakarta.

Triatmodjo, Bambang. 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset.

USGS. Using the USGS Landsat 8 Product. http://landsat.usgs.gov/Landsat8_Using_Product.php. Diakses pada 20 Januari 2015.


Teks Lengkap: PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.